Massa

Mengapa orang mudah tergerak oleh simbol-simbol/identitas?. Bahkan “orang terdidik” bisa terikut menjadi bagian dari massa atau crowd yang tidak sadar, termakan dengan propaganda kosong. Hebatnya, dengan duduk di pojok ruangan, anda bisa bertransformasi menjadi bagian dari massa. Tanpa mengenal atau bertemu secara fisik, hanya dengan bantuan smartphone dan jaringan internet, anda turut menjadi bagian dari massa yang tidak sadar itu.

Kata pemikir asal Perancis, Gustavo Le Bon, ketika sekelompok orang berkumpul bersama dan bergabung untuk membentuk kerumunan, maka akan timbul semacam pengaruh magnet yang ditimbulkan oleh kerumunan tersebut. Kerumunan mengubah perilaku setiap individu-individu yang sebelumnya sadar menjadi dikendalikan oleh pikiran kelompok. Kerumunan menciptakan ketidaksadaran kolektif, mencerabut setiap individu dari pendapat, nilai dan kepercayaannya yang dimiliki sebelumnya.

Dengan kata lain, ketika anda berada di tengah-tengah massa, maka anda akan masuk ke dalam situasi yang dalam istilah Le Bon “anomitas”. Anda menerima dorongan insting. Anda kehilangan pengendalian diri. Dalam tahap ini anda juga menjadi sangat emosional. Jika anda sedang terpisah (terisolasi) dari massa, anda adalah individu  yang merdeka. Akan tetapi begitu anda berada di dalam massa, anda menjadi  barbar. Menjadi masuk akal mengapa seorang mahasiswa yang pada dasarnya kalam tapi seketika menjadi garang ikut tawuran antar kampus.

Kalau anda memahami cara untuk memuaskan imajinasi massa, maka anda bisa memerintah atau mengatur mereka. Buat mereka terkesan, maka anda akan menaklukkan mereka. Celakanya, kata Le Bon, biasanya pemimpin massa adalah orang yang mengandalkan retorika ketimbang tindakan. Mereka tidak memiliki pandangan masa depan yang tajam. Mereka direkrut dari barisan orang-orang setengah gila yang gelisah. Dimasa lalu, kita mengenal tokoh retorik seperti Adolf Hitler  (Jerman), Benito Mussolini (Italy) dan Lenin (Uni Soviet). Mereka mampu menyulap dan menyeret kesadaran massa untuk meyakini bahwa perang adalah tujuan mulia. 

Saya melihat ini masih relevan di abad 21. Demokrasi yang menjadi wajah baru dunia kini dihadapkan dengan munculnya massa tidak sadar. Dengan menumpang instrumen demokrasi (pemilu), politisi populis dan gagasan-gagasan populis bermunculan di benua Eropa, Amerika dan Asia. Cirinya, manipulasi simbol-simbol agama, eksploitasi ketakutan dan prasangka SARA. Pemilu di Indonesia baru-baru ini juga tidak luput. Ini membuktikan bahwa massa yang tergerak oleh propaganda kosong masih menjadi fitur utama demokrasi. Emosional pemilih dieksploitasi secara hebat melalui media massa dan media sosial.  

Bagi para pengkritiknya, teori Le Bon berbau eletisme dan merepresentasi ketakutan pada massa. Tentu saya sependapat dengan kritik tersebut. Namun  tidak bisa disangkal bahwa Le Bon adalah seorang pemikir yang lihai membaca psikologi massa di era kerajaan dan feodalisme Eropa pada akhir abad 19 silam. Lagipula, bukankah aspek persatuan dari teori ini juga bermanfaat jika dipakai untuk memperkuat elemen-elemen rakyat tertindas seperti buruh, tani dan masyarakat adat dalam memperjuangkan hak-haknya?.

 

3 thoughts on “Massa

  1. Pingback: Crowd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.