Internet & Pola Pikir

Jika anda yakin bahwa dengan berselancar di dunia maya akan membuat cakrawala berpikir anda semakin luas atau semakin terbuka terhadap perbedaan, maka mungkin anda perlu berpikir ulang. Disini, penjelasan Le Bon yang elitis tentang psikologi massa tidak lagi memadai. Bahkan kalau saja beliau masih hidup, mungkin akan terkejut dengan realitas yang serba aneh ini. Sehingga saya akan meminjam pemikiran Eli Pariser saja untuk menjelaskan.

Di dunia informasi yang berbasis cetak, anda mencari informasi secara aktif (active user). Anda akan menemukan sumber informasi yang anda inginkan secara manual di surat kabar atau buku. Mungkin anda harus pergi ke perpustakaan atau ke toko buku atau berlangganan koran. Jika anda sudah menemukan sumbernya, anda kadang tidak secara langsung menemukan informasi yang dicari. Tidak ada kemudahan karena anda harus membaca secara detail. Tidak ada penyaringan informasi dari pihak lain kecuali anda sendiri yang melakukannya misalnya dengan melihat daftar isi dan membaca isinya dengan teliti. Ini memacu otak anda untuk terus mencari dan berpikir. Ini ibarat anda pergi ke sebuah restoran dan menentukan atau mencari tahu sendiri menu apa yang akan anda nikmati.

Sebaliknya, dunia digital informasi (internet) tidaklah demikian. Anda memang tetap membaca, akan tetapi anda cenderung membaca informasi yang disuguhkan (passive user). Kebanyakan informasi itu sudah disadur untuk memanjakan anda. Hanya diperlukan usaha yang lebih sedikit untuk mengerti. Tapi anda tidak akan benar-benar memperoleh pemahaman yang utuh. Ini ibarat anda pergi ke restoran dan pelayannya menentukan sendiri menu untuk anda. Seolah pihak restoran sudah mengenal kebutuhan dan selera anda.

Bagaimana ini bisa terjadi? Pariser menjelaskan dengan mencontohkan Google. Google, menurutnya hanya memunculkan informasi berdasarkan rekam jejak digital anda sendiri. Ketika anda mengklik sesuatu, maka identitas, termasuk orientasi atau pandangan politik anda akan terekam dengan baik oleh raksasa internet Google, Facebook, Apple dan Microsoft. Batas wilayah privasi dan publik anda juga seketika menjadi hilang. Selanjutnya, perusahaan-perusahaan internet tersebut akan terus mengumpulkan sebanyak mungkin data pribadi tentang anda. Rekaman tentang diri anda tersebut tentu akan dijual kepada pengiklan atau media berbasis online lain yang keuntungannya bergantung pada jumlah pengunjung. Sistem Filter Buble atau penyaring gelembung, sesuai istilah Parisera akan bekerja untuk menyeleksi bacaan atau informasi yang harus anda serap.

Katakanlah anda adalah pengguna layanan sosial media tertentu seperti facebook dan instagram, dan suatu waktu anda pernah mencari informasi tentang sepatu di situs penjualan online Amazon, maka pada kesempatan berikutnya informasi sejenis akan muncul dengan sendirinya di akun media sosial atau di mesin pencarian anda. Jika anda pernah menonton stand up comedy di youtube, maka besar kemungkinan video selanjutnya adalah yang berhubungan dengan itu. Bahkan di iklan youtube yang anda akan tonton akan muncul iklan komersil produk yang pernah anda cari secara online Anda sendiri mungkin sudah melupakannya tetapi layanan youtube mengingatkan dengan senang hati.

Penyerapan informasi, dalam konteks yang lebih luas dan jangka panjang, bisa berdampak kepada pandangan dan perilaku kita terhadap suatu realitas politik atau sosial. Dengan dicecar informasi yang hanya menyenangkan anda, atau informasi yang sejalan dengan keyakinan anda saja, maka lambat laun anda akan terjebak pada wacana yang semakin sempit dan kadang anti terhadap perbedaan. Juga, karena penyaringan informasinya tidak terlihat, anda tidak akan berpikir tentang informasi yang sedang disembunyikan.

Poin saya, internet memang sangat penting. Tapi mengandalkannya secara penuh dapat berakibat pada penyerapan informasi yang sempit dan pemahaman yang tidak utuh. Anda juga berpotensi menjadi pemalas dan suka jalan pintas. Bahkan dalam kasus tertentu, anda akan menjadi seorang yang sangat intoleran terhadap perbedaan. Untuk terhindar dari masalah tersebut, maka kembalilah kepada buku atau sumber-sumber cetak. Karena disanalah anda akan menemukan pemahaman yang lebih utuh dan makna dari sebuah kerja keras.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.