Melihat Nurnberg Lebih Dekat

Teringat ketika baru beberapa hari menetap di kota Erlangen. Sebagaimana mahasiswa asing, saya penasaran untuk menjajal kota-kota sekitar. Sebelumnya, saya memang sudah menginjakkan kaki di tiga kota berbeda  di Jerman, yakni Frankfurt, Berlin dan Wittemberg.  Saat itu saya tinggal mengikuti jadwal. Perjalanan, mulai membeli tiket, naik kereta, bus atau tram sepenuhnya dipandu oleh pihak tuan rumah. Alhasil, sepulang dari sana saya masih belum paham bagaimana bepergian dengan transportasi umum.

Nurnberg adalah kota pertama yang saya kunjungi sekedar untuk mempelajari bagaimana menggunakan semester tiket untuk transportasi umum. Letaknya cukup dekat, hanya sekitar 30 menit dengan kereta api dari Erlangen. Kalaupun nyasar, tinggal minta petunjuk google maps dan jalan kaki saja, paling juga sampai walaupun lebih lama dan kelelahan.

Pertama kalinya saya mencoba bepergian sendiri. Berikutnya, saya bersama dengan teman dari Ethiopia dan Serbia yang saya kenal di dormitori dan kebetulan juga teman sejurusan. Semester ini saya semakin sering kesana karena kelas Seminar Keadilan Transisional bertempat disana. Singkatnya, dari sekian hal yang menarik, tulisan ini hanya akan mengulas dua hal saja dari kota kedua terbesar setelah Munich di negara bagian Bavaria.

Tempat pertama adalah Documentation Center yang terletak di sebelah tenggara Nurnberg. Sejarahnya, tempat ini pernah menjadi lokasi kampanye akbar Partai Sosialis Nasional (Nazi) dari tahun 1933 hingga 1938. Konon, Hitler berencana menyulapnya menjadi sebuah kota yang sangat megah. Impian itu tentu tidak terwujud karena Jerman keburu kalah dalam perang dunia kedua. Sebagian besar bangunan ini hancur oleh bom-bom sekutu. Sekarang sisa-sisa bangunan besar layaknya koloseum di Italia ini masih berdiri utuh sebagaimana aslinya. Pemerintah negara bagian Bavaria mengubah fungsinya menjadi museum sejarah sebagai wahana pendidikan sekaligus wisata kepada pengunjung.

Credit: wikipedia.de

Anda bisa bayangkan berada di tengah bangunan bersejarah semegah itu. Luasnya yang mencakup 4 kilometer persegi ini menjadi saksi bagaimana propaganda perang diproduksi dan mobilisasi massa dipertontonkan. Setiap benda dan tulisan yang tersimpan disini memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kediktatoran Adolf Hitler di zaman itu.

Personal Collection

Museum ini juga dibekali dengan teknologi digital dan alih bahasa. Rekaman asli dari pidato yang berapi-api dari para pemimpin Nazi dan deru suara parade militer yang kompak dan teratur bisa anda dengarkan melalui sebuah alat elektronik lonjong yang berfungsi sebagai penerjemah sekaligus remote kontrol. Lukisan-lukisan setinggi dinding yang seolah hidup semakin memungkinkan anda untuk merasakan seolah sedang berada di zaman itu.

Pariwisata dan prostitusi ibarat dua sisi mata uang. Demikian juga di Nurnberg. Disini namanya Red Light District. Hal semacam ini lumrah ditemukan di negara-negara dimana agama menjadi bagian norma sosial, apalagi di Jerman yang lebih sekuler. Bedanya, prostitusi adalah hal yang legal di Jerman. Setiap transaksi harian dikenakan pajak sama seperti sektor jasa lainnya. Tentu, para wanita tersebut mendapat pemeriksaan kesehatan wajib dan rutin.

Credit: The Longest Way

Saya kurang tahu padananan kata yang tepat untuk Red Light District dalam bahasa Indonesia. Istilah semacam ini memang lazim dipakai di sudut-sudut kota tertentu di Eropa. Misalnya yang paling terkenal adalah Amsterdam Red Light District. Yang jelas, cahaya lampu yang terpancar dari jendela kaca setiap bangunan itu memang berwarna merah. Distrik sudah tentu merujuk pada istilah administratif sebuah daerah. Khusus disini, ada istilah lokalnya. Ini tampak di salah satu bangunan bernomor 49, yang tertulis Frauentormauer, yang artinya kurang lebih wanita, gerbang atau tembok. Bahasa Jerman memang identik dengan penggabungan beberapa kata menjadi satu terutama jika merujuk pada kata benda.

Di sebelah kanan deretan benteng bercorak Medieval itu ada gedung dengan tanda merah berbentuk hati tergantung di atas setiap pintuya. Tampak beberapa wanita berjejer di jendela lebar yang transparan. Sebagian sambil merokok dengan hanya mengenakan pakaian dalam. Konon katanya mereka umumnya berasal dari negara-negara Eropa Timur misalnya Romania dan Ukraina yang perekonominya tidak lebih baik dari Eropa Barat. Jangan coba datang kesini jika anda belum dewasa secara umur. Jangan pula memotret mereka kalau tidak ingin berurusan dengan pihak keamanan.

Sekedar catatan saja, disini saya tidak sedang membahas tentang aspek moral, politik atau sosial prostitusi. Mungkin akan ada di postingan lain soal itu nanti. Anda mungkin tidak setuju dengan praktek ini. Atau mungkin anda berasumsi tentang saya dan apa yang saya lakukan disana. Tetapi itu tidaklah begitu penting untuk dibahas dan jika pun demikian, itu hak anda. Mengingat blog ini juga sifatnya sangat terbuka untuk memperdebatkan semua hal terkait rasionalitas dan kemanusiaan, segala komentar boleh tapi jangan hipokrit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.