(Merayakan) Kematian

Bagi sebagian orang, membicarakan kematian serasa seperti horor. Bahkan tidak jarang yang enggan memikirkannya barang sejenak pun. Namun bagi sebagian, kematian justru sebuah perayaan. Ya, perayaan keabadian.

Baru-baru ini, seorang teman mahasiswa asing disini menunjukkan sebuah kartu kepada saya. Bentuknya seukuran kartu ATM. Akan tetapi isinya sedikit berbeda. Kartu itu adalah sebuah bukti kesediaannya untuk diambil semua organ tubuhnya sesaat sebelum dia meninggal kelak. Setelah setengah meyakinkan saya bahwa itu jalan yang terbaik, dia mencoba kembali memasukkan kartu tersebut ke dompetnya.

“Saya belum berbuat banyak kepada orang lain, setidaknya dengan ini saya bisa membantu”, kata teman dekat yang mengaku atheis itu. Di Jerman praktek ini memang lazim ditemukan. Biasanya ketika mendaftar ke asuransi, petugas asuransi akan menawarkannya kepada para nasabah. Banyak juga yang memilih jalan ini, mungkin ini cara peradaban Barat merayakan kematian.

Terkenang ketika Ibu saya meninggal sekitar dua tahun yang lalu. Betapa budaya juga menjadi faktor yang sangat berperan dalam memperlakukan orang yang sudah meninggal. Permintaan almarhumah Ibu untuk dimakamkan di luar pekuburan umum atau keluarga tidak bisa direalisasikan seenaknya saja. Tempat yang dimaksud terletak di puncak sebidang tanah perladangan durian berbukit yang berjarak 1 kilometer dari rumah itu.

Di suku Batak, ada adat dan tradisi yang mengatur bagaimana membuka sebuah pemakaman baru. Sama halnya ketika membuka perkampungan baru untuk orang hidup, membuka pemakaman baru juga butuh adat dan upacara. Ada kerbau yang harus dikorbankan, dibagikan kepada para raja atau ketua adat sebagai bagian dari upacara pemakaman. Tentunya butuh sejumlah uang yang lebih besar dibandingkan pemakaman biasa. Ada semacam kehormatan bagi orang Batak ketika bisa memenuhinya. Begitulah salah satu cara orang Batak merayakan kematian.

Lain tempat lain pula tradisi dan cara merayakan kematian. Di Toraja misalnya lebih unik lagi. Jarak antara kehidupan dan kematian sangatlah tipis, bahkan hampir tidak ada. Orang yang meninggal diawetkan dan ditempatkan di dalam sudut rumah tempat tinggal bisa bertahun-tahun lamanya. Dirawat sebagaimana merawat orang yang sedang berbaring sakit saja.

Dalam waktu-waktu tertentu, suku Toraja mendandani mereka untuk ditampilkan ke umum sebagai bentuk upacara penghormatan kepada orang yang meninggal dunia. Biayanya jangan ditanya, mengorbankan puluhan kerbau dan berbagai tingkat upacara sudah bisa dibayangkan berapa rupiah yang dibutuhkan. Konon suku Toraja rajin menabung untuk mempersiapkan kematian. Tradisi ini masih tetap bertahan bahkan dalam aspek tertentu menyatu dengan kekristenan yang datang sesudahnya, dibawa oleh misionaris Belanda kala itu.

credit: sains.kompas.com

Namanya hidup, ada siklusnya. Lahir, tumbuh, menua dan mati adalah hal yang tidak bisa direkayasa. Revolusi kecerdasan buatan (artificial inteligence) bahkan belum (mungkin bakalan tidak) sanggup melakukannya. Mungkin saja mampu menunda kematian, tetapi bukan menghentikannya.

Disini saya tidak berbicara tentang agama atau keyakinan. Karena kehidupan dan kematian jauh melampau agama itu sendiri. Kita saja yang senang atau nyaman berada di kotak-kotak pemikiran yang semu itu. Kematian adalah universal. Maka selagi hidup mari menghargai kehidupan. Ketika mati, rayakanlah dengan bermartabat juga. Kematian hanyalah jalan menuju keabadian. Ini hanya sekedar renungan di siang bolong musim panas saja.

2 thoughts on “(Merayakan) Kematian

    1. Begitulah budaya dengan kompleksitasnya. Di dalam sub-sub suku Batak dan wilayah saja ada berbagai tradisi yang saling berbeda apalagi antar suku bangsa. Cara memang bisa berbeda tetapi semuanya sama-sama bentuk perayaan dan penghormatan kepada yang meninggal dan dukungan kepada yang ditinggalkan. Oiya, semoga cepat mendapat penghiburan.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.