Bahasa Asing

Saya tidak termasuk orang yang cepat belajar bahasa (fast language learner). Saya juga bukan tipe orang yang mudah atau senang meniru gaya bicara orang lain. Bahkan bahasa Indonesia saya saja masih terlalu mudah dikenali ciri khasnya. Kalau bukan disangka khas Batak, orang Indonesia disini sering menduga mungkin dari suatu daerah Indonesia Timur sana. Saya tetap bangga dengan kekhasan itu.

Lalu bagaimana dengan aktivitas perkuliahan dan kehidupan sehari-hari disini. Memang di kampus, seluruh ceramah profesor, diskusi kelas, presentasi seminar bahkan menulis makalah berbahasa Inggris. Sementara di luar kampus, contohnya belanja di supermarket, atau menggunakan fasilitas umum misalnya kereta api semuanya memakai bahasa Jerman. Apakah ada kendala yang dihadapi. Tentu ada, dan untuk itulah saya terus belajar, apalagi dengan istilah-istilah hukum yang sebagian asing itu. Namun, saya kategorikan kendala itu sebagai persoalan yang minor saja alias tidak terlalu signifikan sepanjang keberadaan saya disini.

Credit: tribunnews.com

Dulu, salah satu persyaratan untuk diterima di kampus ini adalah nilai International English Language Test System (IELTS) minimal level C1 Common European Framework of Reference for Language (CEFR). Kalau ingin tahu seperti apa level C1 itu, silahkan cari saja di google. Tetapi yang pasti, itu level kedua tertinggi dalam standar bahasa yang diakui di Benua Biru ini. Di atasnya hanya tinggal satu level lagi, yakni C2 atau setara mastering.

Kala itu, saya belajar keras untuk sampai ke level tersebut. Layaknya seorang petapa, sebelum ujian pamungkas, saya mengurung diri hampir 3 minggu penuh di sebuah kamar sejuk dan nyaman sebanding dengan mahalnya biaya sewanya. Disana saya tidak lagi hanya belajar bahasa Inggris. Bagi saya, sudah cukuplah sekitar 3 tahun berkutat dengan itu dengan memanfaatkan sedikit energi sisa rutinitas kerja. Jadi, saya pusatkan untuk menganalisis makhluk seperti apa sebenarnya IELTS yang super mahal dan super tricky ini, sehingga sering menjadi batu sandungan bagi kebanyakan orang yang bermimpi kuliah di luar negeri. Grafik-grafik menjadi alat bantu menganalisa pola kemampuan dan konsentrasi saya sendiri. Itu layaknya seorang youtuber yang mempelajari algoritma media online untuk meningkatkan trafik pengunjungnya. Cara ini terbukti ampuh juga.

Foto asal jadi berisi grafik: Personal collection

Tentang bahasa Jerman, tentu saya masih belajar keras setidaknya untuk bisa memahami percakapan sehari-hari.Kesibukan perkuliahan menguras waktu yang tersedia untuk belajar bahasa baru lagi. Saya belajar sambil lalu saja. Kadang dengan membaca berbagai tulisan-tulisan petunjuk arah atau tempat di ruang publik atau suara petugas dari mikropon kereta api/bus dan supermarket. Kadang tulisan di alat peraga kampanye politik di pinggir jalan lebih mudah saya ingat. Mungkin karena ketertarikan ke hal-hal yang berbau politik dan sosial. Pun demikian, saya sadari progresnya masih sangat jauh dari ketegori fast learner. Lagipula santai saja. Saya tidak ada target khusus untuk bahasa yang tergolong rumit ini.

Poin saya adalah bahwa bahasa tidak lebih dari cerminan atau perwujudan budaya atau peradaban. Sehingga untuk belajar bahasa, maka belajarlah juga budaya pemakai bahasa itu sekalian. Soal peradaban, tidak ada istilah peradaban yang lebih maju atau tertinggal dari peradaban yang lain. Yang ada adalah nilai, norma, sistem sosial, politik dan ekonomi yang berbeda dan beragaman.

Di atas semuanya, ada nilai-nilai yang universal atau berlaku secara umum dan menyatukan. Artinya, bahasa bukan menunjukkan tingkat kecerdasan. Bukan pula menunjukkan tingkatan kelas antara bangsa yang unggul dan bangsa budak atau pemisah. Ini hanya sistem yang dibangun untuk melanggengkan penjajahan dan dominasi sejak dahulu kala. Kalau anda masih menganggap demikian, maka mungkin anda masih bermental terjajah. Sehingga alih-alih menemukan metode baru yang lebih ampuh dalam belajar bahasa, anda malah akan semakin terjerumus di dalam jebakan dari cara-cara konvensional sekolahan yang secara umum sudah terbukti gagal dan usang itu.

Bahasa juga luas pengertiannya. Segala bentuk atau cara komunikasi adalah juga bahasa. Sayang, bahasa memang sering diartikan secara sempit saja, hanya sebatas susunan kata yang terucap dari mulut secara verbal dan tertulis di buku-buku atau media tulis lainnya itu. Padahal apapun yang bisa menghubungkan kita dengan orang lain sehingga tercipta sebuah pemahaman satu dengan yag lainnya adalah bahasa juga. Dengan kata lain, dengan menggerakkan salah satu jari tangan saja sudah mengandung nilai informasi ketika dapat dipahami oleh setiap orang dari budaya atau belahan bumi manapun itu. Bahkan saya dengan seorang teman dekat bisa sepakat untuk memakai kalimat atau kata tertentu dari bahasa sukunya atau dari bahasa batak ketika mengumpat atau bicara tabu. Sebatas untuk seru-seruan saja.

Walaupun tidak bicara teknis (saya memang tidak tertarik untuk terlalu teknis membahas tentang belajar bahasa), akan tetapi semoga tulisan reflektif ini membantu anda yang saat ini sedang belajar bahasa asing. Setidaknya memercikan semangat antidominasi dan mental inferior. Tulisan ini terinspirasi dari curhatan panjang seorang teman sekelas tadi sore. Ia mengaku sering dilanda kekuatiran atau demam panggung saat presentasi. Padahal kemampuan bahasanya (verbal) cukup lumayan. Disini pertanyaan yang baru muncul, apakah bahasa terkait dengan kualitas kejiwaan (psikologis). Butuh jawaban yang terpisah lagi.

2 thoughts on “Bahasa Asing

  1. Menurutku belajar bahasa yang paling sederhana itu tidak punya metode khusus. Ada yang mendengar sudah bisa paham dan tahu, ada yang membaca tulisan,ada juga harus keduanya. Aku pernah baca sebuah tulisan tentang perbandingan laki-laki dan perempuan dalam belajar bahasa. Hasilnya perempuan lebih mudah belajar bahasa daripada laki-laki. Jadi kalau Pak Tongam bukan fast learner bisa jadi karena itu hehehe..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.