Belajar (dengan) Mengkritik

Seorang teman pernah berkata kepada saya di sebuah rapat perhimpunan mahasiswa. “Bro, ketimbang mengkritik terus-terusan, mengapa tidak kasih solusi saja”, nada suaranya agak tinggi. Saya kuatir, mungkin istilah kritik sudah kepalang bermakna negatif di kepala si kawan. Sebaliknya, solusi baginya bermakna positif. Wajar saja, dia jadi gagal paham sehingga alpa terhadap serangkaian solusi konkrit yang berbarengan dengan kritik yang saya sampaikan. Atau sudah keburu ingin pulang dan tidur. Hawa musim dingin memang di puncaknya kala itu.

Kritik adalah solusi, solusi adalah kritik, demikianlah adanya. Kalau tidak demikian, lalu bagaimana anda mengetahui sesuatu benar atau salah tanpa harus mempertanyakan atau meragukan kebenarannya terlebih dahulu. Atau bagaimana memberikan solusi tanpa meyakini bahwa ada yang kurang dari sesuatu yang sedang disoal tersebut. Nah, disinilah pentingnya kritik dan solusi diletakkan sejajar dan saling berdampingan.

Credit: liveabout.com

Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan konon berasal dari tradisi kritik-mengkritik. Tesis atau pendapat dilahirkan dengan menyoal tesis sebelumnya. Adakalanya kesimpulan akhir selaras atau saling menguatkan, yang disebut sintesis/sintesa. Ada kalanya malah saling menegasikan atau menyangkal alias antitesis/antitesa.

Alkisah Karl Marx, nabinya kaum Marxist itu menyempurnakan idenya justru dengan mengkritik pemikiran atau ide orang sebelumnya. Tidak tanggung-tanggung, kritiknya sampai berwujud buku berjudul The Poverty of Philosophy. Kalau tidak, darimana asalnya teori nilai lebih buruh, kelas dan akumulasi modal yang kesohor itu kalau bukan hasil kritik terhadap para pemikir sebelumnya.

Orang sebelumnya yang saya maksud adalah pemikir sosialisme asal Perancis, Pierre-Joseph Proudhon. Dia nyatanya lebih dulu terkenal sebagai seorang pemikir kiri, mendahului Karl Marx dan sahabatnya Friedrich Engel. Dialah sang pencetus ide anarchist dan nilai lebih kerja buruh. Bahkan Benjamin Ricketson Tucker, tokoh ide anarkisme asal AS mengklaim bahwa Karl Marx hanya memodifikasi saja. Segala substansi yang dia tuangkan dalam buku-bukunya adalah pengembangan pemikiran Proudon semata. Dengan kata lain, teori (solusi/pendekatan) kelas dan akumulasi modal yang kesohor bakal tidak sampai ke rak-rak buku dan wacana-wacana kritis kita saat ini tanpa ketekunan mereka dalam mengkritik. Dalam hal ini saya tidak berani menyimpulkan apakah ini bentuk antiteis atau sintesis.

Jika bicara tentang tradisi kritik dan solusi, tentu masih banyak contoh lain. Misalnya hukum tuhan versus hukum kodrat (natural Law), Natural Law versus Utilitarinism, kehendak raja versus kontrak sosial. Masing-masing dengan varian dan tokoh-tokohnya yang tidak tersebutkan. Kita mengenal kritik sastra, kritik sejarah kritik seni dan sebagainya. Katakanlah di bidang teknologi 3G menjadi 4G dan kini 5G yang kini ditengarai semakin memanaskan perang dagang dua raksasa besar, AS dan China.

Tidak usah jauh, agama-agama saja lahir dari proses kritik dan di dalamnya ada solusi juga. Katakanlah yang masih terekam sejarah, misalnya Budha adalah kritik terhadap Hindu, Kristen adalah kritik atas tradisi Yahudi, Islam adalah kritik atas Kristen. Wajar mereka senantiasa berperang sejak itu hingga sekarang. Ke depannya kita tidak tahu agama apa lagi yang muncul dari sebuah proses kritik. Dan perang apa yang akan menyertainya ( di awal saya sudah singgung perang dagang antara AS dan China). Mungkin agama universal, atau agama kecerdasan buatan seperti yang disinggung secara implisit oleh Yuval Noah Harari dalam serial bukunya yang laris itu.

Dalam dunia akademis ada metode critical analysis. Salah satu makna sederhananya adalah bahwa untuk memahami sesuatu teori, kritiklah teori itu terlebih dahulu. Artinya jangan kadung yakin terhadap kesempurnaan bacaan yang dihadapan anda. Mulai dengan kecurigaan pasti ada gap atau ruang kosong yang tidak terjawab dan harus ditemukan di teori lainnya. Misalnya untuk mengetahui pemikiran atau ide tentang Hak Asasi Manusia (HAM) yang katanya universal itu, maka bacalah pemikiran Jeremy Bentham soal omong kosong revolusi Perancis, para penganut existentialisme soal ide HAM yang abstrak, femisnisme soal bias laki-laki dalam setiap konten hukum HAM “the Man”, particularisme soal budaya yang relatif dan postkolonialisme teori soal penjajahan baru bernama HAM. Barangkali pemahaman anda akan lebih utuh sehingga menghasilkan solusi. Bagi saya, cara ini terbukti ampuh.

Pramoedya Ananta Toer, novelis dan sejarawan otodidak yang terkenal itu pernah berkata didiklah pemerintah dengan perlawanan. Jadi, kritik merupakan salah satu komponen atau bagian perlawanan. Artinya, jangan asal percaya saja dengan pemerintah. Kritisisme itu mutlak diperlukan, apalagi mengandung pembelajaran dan solusi.

Tentu kritik akan mengandung solusi jika dilakukan dengan benar. Solusi juga akan bermanfaat jika menjawab persoalan. Lagi, bukan bahasa kritik atau solusinya yang penting. Bagaimana untuk memahami sesuatu sehingga mampu mengkritik dan member solusi yang paling utama.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.