Jerman

Tulisan ini dengan sendirinya akan mengarah pada perbandingan antara 2 tradisi atau situasi. Tetapi saya tidak sedang bermaksud untuk menilai mana yang terbaik. Lagipula sebagian besar hanya berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sendiri. Oleh karena itu, sifatnya pastilah sangat subjektif.

Credit image: dw.com

Mengenai komunikasi, sebagaimana negara-negara “Barat”, Jerman juga terkenal dengan kebiasaan berbicara singkat dan langsung (direct). Sangat normal ketika anda bertanya sesuatu, jawabannya tanpa basa-basi atau pengantar. Misalnya Ja (ya) atau Nein (tidak). Ini berlaku juga misalnya ketika seorang salesman sedang menawarkan barang atau jasa kepada anda di jalanan. Tidak usah kuatir dianggap sombong karena jawaban anda singkat. Cukup jawab nein jika tidak tertarik, mereka umumnya akan mengerti makna tersiratnya. Tidak perlu penjelasan, keputusan anda akan dihargai, setidaknya tidak akan ada pemaksaan.

Kritik dan keberatan dapat diterima sepanjang relevan dan masuk akal. Tidak usah kuatir, kritik dan penolakan itu akan dimaknai sebagai penolakan terhadap apa yang sedang ditawarkan atau yang dibicarakan saja, bukan terhadap pribadi orangnya. Debat apa saja terbuka asal jangan mengandung kebencian rasis. Bicara rasis di muka umum, aibnya sama dengan ketahuan mencuri karena umumnya orang Jerman sangat sensitif jika mendengar penilaian-penilaian yang berdasarkan bentuk fisik apalagi mengandung ejekan.

Di perkuliahan, dosen paling sering dipanggil Sie (anda) saja. Kadang cukup panggil gelar atau jabatan akademiknya doktor atau profesor. Sebut namanya juga bukan berarti anda tidak menghormati orang yang lebih tua. Intinya sikap elegan dan komunikasi yang natural atau apa adanya lebih dihargai baik di dalam atau di luar perkuliahan. Selain itu, dosen akan lebih senang jika anda bertanya atau berkomentar. Itu lebih baik meskipun kadang perkara sepele karena setidaknya saling pemahaman tercipta. Jika anda tidak bertanya, jangan harap akan ada bantuan.

Anda hanya akan disambut dengan baik ketika bertamu sesuai dengan waktu yang telah disepakati sebelumya. Kunjungan yang sifatnya spontan bukan hal yang biasa. Sekalipun itu menjenguk orang sakit, datang tanpa pemberitahuan malah bisa diartikan tidak sopan dan menggangu. Ini adalah salah contoh bagaimana keramahan dan sopan santun dimaknai.

Tepat waktu bukan hanya perkara membuat janji, rapat, berobat ke dokter, sampai tutupnya toko-toko, tetapi juga ukuran penghargaan terhadap orang lain. Terlambat bisa saja asal ada pemberitahuan. Alasan yang diluar dari kendali umumnya lebih mudah diterima, misalnya karena jadwal kereta api tiba-tiba diundur. Dalam rutinitas perkuliahan, datang tepat waktu memang sangat dianjurkan, namun bukan berarti anda harus malu dan akhirnya pulang hanya karena sudah terlanjur terlambat. Alih-alih dapat pujian, mengetahui anda datang lebih lumayan awal dari jadwal yang disepakati, orang yang anda jumpai malah akan menganggap anda kurang kerjaan. Nilainya lebih baik sedikit dibandingkan terlambat saja.

Soal nongkrong, umumnya ada semacam peraturan tidak tertulis bahwa siapa yang mengundang makan atau minum secara langsung akan bertanggungjawab terhadap pembayaran. Soal ini, tradisi “timur” mengaitkannya dengan harga diri. Jika anda pengundang atau yang lebih “dituakan atau dihormati” diantara rombongan, dilema akan datang ketika saatnya pembayaran. Rasanya kurang etis jika anggota yang mentraktir, semacam penghinaan saja. Sebaliknya, jika anda tidak bersedia merogoh kantong, anda malah akan dianggap pelit.

Disini, situasi berbeda. Kebanyakan orang hanya akan membayar makanan yang dipesannya saja meskipun datangnya berkelompok atau berada di meja yang sama. Meminta bill atau bukti pembayaran yang terpisah juga sesuatu yang sangat wajar. Mentraktir bisa saja tapi biasanya diberitahu dari awal saat mengundang. Kadang undangan party dibarengi anjuran untuk membawa makanan dan minuman masing-masing. Minum di bar juga sangat praktis, petugas akan mencatat jumlah pembayaran di kertas alas gelas masing-masing pengunjung. Barangkali ini yang dinamakan lain lubuk , lain pula kepitingnya ;).

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.