Ketika Agama Kehilangan Tuhan

Baru tersadar bahwa saya sudah lama tidak update tulisan disini. Maklum kesibukan dan perhatian selama beberapa minggu ini telah  benar-benar berhasil menyedot perhatian. Mengingat blog ini memang saya maksudkan sebagai wadah membincangkan hal-hal yang terpinggirkan (saya sebut catatan pinggiran atau marginal), sehingga kali ini saya akan menyoal tentang agama dan perilaku pengikutnya. Pemikiran ini bukan hal baru. Saya hanya mencoba merekonstruksinya.

Nah, kebetulan saat ini momentumnya agak pas. Baru-baru  seorang ustad bernama Somad menggetarkan dunia maya dengan kutipan video ceramah kontoversial yang beredar di dunia maya tentang salib yang menurutnya didiami oleh jin kafir. Ustad jutaan pengikut si sosial media tersebut mendadak menjadi target kritik dan bully, atau bisa berpotensi menjadi target kriminalisasi dengan pasal-pasal terkait penghinaan agama dalam hitungan beberapa hari kedepan. Pihak yang bereaksi tentu orang-orang yang merasa dirugikan.

Saya berpendapat, bahwa ajaran agama tidak pernah berubah dari dulu. Tuhan, dewa atau apapun sebutannya, beserta para nabinya juga masih relatif sama. Lalu yang berubah apanya?. Tentu manusia karena hanya manusialah subjeknya yang mampu melakukan interpretasi atau penafsiran terhadap ajaran tersebut. Saya juga berpendapat bahwa bahwa virus fanatisme bukan kasus yang terisolasi. Kita bisa temukan di hampir semua agama dan kepercayaan. Polanya juga hampir sama dengan ideologi atau pandangan-pandangan dominan yang bercorak rasisme. Di hampir seluruh belahan dunia ini, satu hal yang membuat fanatisme menjadi berdaya rusak lebih besar adalah ketika berada di posisi mayoritas. Pemikiran seperti ini menghindarkan saya dari jebakan berpikir reaktif dan sektarian. Sehingga saya tidak akan ikut-ikutan mencela individunya.

Esensi awal adanya agama sebenarnya sederhana, yakni untuk mendapatkan pengetahuan dan kebajikan yang bisa menjawab tantangan alam dan kemanusiaan itu sendiri. Dengan kata lain,  orang belajar agama dengan tujuan untuk bisa mempelajari ilmu-ilmu lainnya misalnya ilmu pengobatan. Saya rasa sejarah telah mencatat pencapaian-pencapaian itu dengan baik.

Menjadi seorang pemimpin agama juga hakekatnya bukan perkara mudah. Kecakapan dan integritas menjadi taruhan. Intinya seorang pemimpin agama memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Kelebihan yang saya maksud bukan bersifat supranatural ataupun keturunan. Saya lebih suka memakai persfektif logis ketimbang hal-hal yang supranatural. Sehingga yang saya maksud kelebihan disini adalah terkait kejujuran, pengorbanan, integritas, niat baik dan pandangan kedepan dan sebagainya.

Membahas praktek-praktek beragama, rasanya kurang lengkap tanpa menyebut nama Nietzsche. Saat itu, filsuf asal Jerman tersebut menggunakan ungkapan “Tuhan sudah mati” atau God is dead sebagai bentuk kekecewaannya terhadap suatu kondisi di zaman Pencerahan ketika orang-orang (terutama gereja) telah menghilangkan kemungkinan keberadaan tuhan. Ketika ajaran agama dimaknai atau ditafsirkan seturut kemauan elit. Ketika instrumen atau alat untuk melegitimasi suatu tindakan, misalnya perang. Ketika digunakan untuk menghalangi dan membunuh inovasi atau ilmu pengetahuan. Bahkan nama tuhan dijual, diperdagangkan, dijaminkan, dijadikan murahan, oleh orang-orang yang merusak, membunuh, sambil meneriakkan nama tuhan. Karl Marx juga sudah lama mewanti-wanti bahwa agama tidak ubahnya seperti candu. Ketagihan dan ketergantungan terhadap agama menjadikan manusia lupa untuk berpikir dan bertindak secara logis dan kritis. Sayangnya, ungkapan itu sengaja diartikan harafiah saja, seolah mereka berdua sedang memusuhi tuhan dan mengajak orang untuk berpaling dari agama.

Sejarah mencatat bahwa agama sudah lama dijadikan sebagai senjata untuk menghabisi manusia lainnya. Dan tanpa disadari manusia sedang merusak reputasi tuhannya  dan sedang menguburnya dalam-dalam di balik gundukan ayat-ayat dan aturan agama. Coba kita pikirkan, tuhan mana yang mengajarkan untuk membunuh, membenci? Tetapi masih ada saja manusia yang membunuh, membenci, mengintimidasi, merusak, sambil dengan bangga meneriakkan nama tuhan, seolah tuhan senang ketika manusia lain menjadi menderita. Apa yang saya jelaskan di atas terjadi di level struktural (sistem)

Di level individu, bagi saya, agama kehilangan tuhan adalah ketika berada di situasi berikut; ketika orang malas belajar science dan maunya belajar agama saja. Ketika orang yang paling dungu yang tidak bisa bersaing dengan orang-orang lainnya, dikirim untuk belajar jadi pemimpin agama. Ketika orang berdoa atau berbuat baik semata karena ingin menginginkan sesuatu atau takut neraka. Ketika agama ditempuh untuk cari muka di hadapan tuhan dan manusia.

Bayangkan betapa membosankannya hidup ini ketika agama masih tetap menjadi komoditi yang menguntungkan pelaku bisnis berbasis agama. Atau ketika agama jadi hobi, tren, dan bahkan pelarian karena tidak tahu lagi harus bagaimana akibat tersumbatnya daya kritis kita. Atau ketika agama kompromi dan bersahabat dengan perusak lingkungan dan pelanggar HAM.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.