Eng Ing Eng Dulu


Kini hampir 2 tahun tinggal di sini sebagai mahasiswa internasional, dan 4 musim berlalu sudah, Winter- Spring, Summer-Winter-Spring dan balik ke Summer beberapa bulan ke depan membawa kenangan yang sungguh berbeda. Aktifitas perkuliahan, rutinitas harian, termasuk situasi baru akibat Covid 4 musim juga turut memberi warna yang tidak akan pernah lekang oleh waktu. Saya harus akui, kepenatan yang kadang menghampiri sama sekali tidak sebanding dengan pengetahuan, pengalaman dan kenangan yang sangat bermakna dan tidak tergantikan.

Pengalaman dan pengetahuan yang saya maksud adalah bagaimana cara untuk bisa sampai ke Jerman dengan status mahasiswa internasional. Sebuah pertanyaan yang beberapa tahun lalu hinggap di pikiran saya, dan tidak pernah jenuh untuk mencari tahu jawabannya. Nah, satu hal yang semakin memperkuat keyakinan saya tentang mandapatkan peluang kuliah di negara maju semacam Jerman ini adalah bahwa strategi dan daya tahan jauh lebih penting daripada kecerdasan intelektual atau kemampuan finansial. Di beberapa kasus, kedua faktor terakhir ini memang berlaku, tapi empirically, orang yang tidak memilikinya bisa berhasil hanya dengan mengandalkan strategi yang tepat dan daya tahan yang teruji atau dalam Bahasa saya, nekad dan ngotot.

Umumnya, ada 2 jalur untuk bisa sampai disini; beasiswa dan biaya sendiri—disamping ada jalur lain seperti kerja sambil belajar (Aupair, Ausbildung dsb yang kurang saya tahu detailnya). Beasiswa sudah tentu menjadi pilihan yang lazim diinginkan, sudah hampir pasti, competisi dan kompetensi merupakan dua key variables suksesnya. Saya sendiri memilih jalur ini. Namun akan cerita tentang faktor nekad dan ngotot tadi. 

Ada beberapa teman dekat yang melakoni jalur ini. Mereka tidak cukup untuk diceritakan lewat tulisan ini satu per satu. So, saya bahas satu teman saja sebagai contoh, tentu tanpa sebut nama. Dia adalah seorang Bangladesh, anggota masyarakat adat marginal,Chapa di bawah sistem hukum dan politik di negaranya. Saya kenal kawan ini di kelas kursus Bahasa Jerman medio musim dingin 2018 yang lalu. Kami berangkat dari satu titik yang sama dalam hal kemampuan bahasa Jerman yang sama sekali nol, dan bahasa Inggris dengan IELTS setara C1 menurut standard sebagai salah satu modal utama untuk diterima di jurusan yang dituju. Kuliah di universitas yang sama, jurusan MA Development Studies, sementara saya MA HUman Rights.

Mengapa Jerman? Inilah lontaran pertanyaan pertama saya sesaat setelah kami bertegur sapa untuk pertama kali. Tentu, saya tidak ingat betul apa jawabannya, maklum, not really a big deal, sekedar cara memecah kebuntuan percakapan saja. Jawabannya justru saya dapat secara random dari beberapa orang lainnya saat bertegur sapa atau berpesta di kafe bawah dormitory.  

Jerman adalah negara yang selalu ditempatkan di jajaran negara-negara ekonomi neolib. Akan tetapi  sistem welfarestate-nya menempatkannya sebagai sebuah negara yang unik sehingga tidak mudah untuk digeneralisasi dengan negara lain. Secara sederhana, welfarestate berarti sebuah sistem dimana negara melindungi dan mempromosikan kesejahteraan ekonomi dan sosial warga negara, berdasarkan pada prinsip-prinsip kesempatan yang sama, distribusi kekayaan yang adil, dan tanggung jawab publik untuk warga negara yang tidak mampu memanfaatkan ketentuan minimal untuk kehidupan yang baik. Wujudnya terlihat dari sistem pendidikan yang mengutamakan pemerataan namun tidak melupakan kualitas. Sementara di negara-negara Anglo Saxon, seperti Amerika Serikat dan Inggris Raya lazim ditemukan disparitas antar universitas dari segi peringkat, di Jerman, sulit membayangkan situasi yang sama— meskipun untuk kepentingan promosional, beberapa universitas masih mengutip data organisasi-organisasi pemeringkatan. Dengan kata lain, peringkat tidak lebih dari sekedar deretan angka-angka disini.

Setali tiga uang, biaya pendidikan juga tergolong murah, bahkan sebagian besar tidak memberlakukan tuition fees sama sekali sampai jenjang doktoral— jurusan saya hanya segelintir yang masih menerapkan tuition fees, yakni 5.000  Euro per tahun. Sementara ,ahasiswa di jurusan lain pada umumnya cukup membayar semester fees sebasar 180-200 Euro per semester—semacam Iuran untuk transportasi umum dan kemahasiswaan. Sehingga, tinggal biaya kebutuhan sehari-hari—tentu tergantung gaya hidup— menjadi fokus mahasiswa disini. Biaya standarnya sebagai berikut; 230-250 tempat tinggal, 70 -130 Euro asuransi kesehatan per bulan, dan konsumsi makanan harian sekitar 80-120 Euro.

Namun, satu hal yang cukup memberatkan adalah keharusan untuk mendepositkan uang sebesar 10.000 Euro di bank Jerman untuk persyaratan visa— kebijakan keimigrasian yang juga hampir umum diterapkan di negara lain. Uang ini tersimpan di rekening yang disebut blocked account, artinya hanya bisa ditarik oleh mahasiswa yang bersangkutan maksimal sekitar 800an euro per bulan selama disini. Meskipun bukan angka yang sedikit untuk dikumpulkan menjelang keberangkatan, kebijakan ini cukup rasional untuk tidak berakhir jadi gelandangan disini. 

Singkatnya, katakanlah si kawan tadi harus mengumpulkan 10.000 Euro dari penghasilannya di negaranya (dan mungkin ngutang sana sini untuk tambahan). Sesampai di Jerman sebagai mahasiswa, dia bisa hidup dengan uang tadi tanpa bekerja katakanlah selama setahun. Bayangkan jika berbekal kemampuan bahasa Jerman yang basic dia bisa bekerja part-time di toko atau dengan upah per jam 9-12 euro per jam, misalkan dia bekerja 10 jam per minggu. Catatan; sesuai peraturan, mahasiswa bisa bekerja maksimal 120 hari (full-time) atau 210 hari (half-day) dalam setahun. Inilah petunjuk Dasar untuk menjawab pertanyaan tadi. Tentunya seiring jalan, ada beberapa penyimpangan dan penyesuaian, yang menurut saya lazim terjadi di dalam situasi apapun. Variabel variabel ini juga berlaku di Indonesia jika anda memutuskan kuliah kuliah S2. Berdasarkan keluhan kawan, total biaya yang harus dikeluarkan malah bisa tidak jauh beda. 

Akhir kata, tulisan ini hanya dari sudut pandang sempit; ekonomi. Masih ada aspek lain yang perlu dipertimbangkan yang tidak cukup saya ulas saat ini, termasuk artikulasi kita terhadap nilai, dan philosophy pendidikan, baik dalam konteks kita sebagai individu, maupun sebagai warga. Bagi saya, nalar dan objektifitas adalah tujuan akhir pendidikan. Sementara menjadi manusia merdeka adalah ukuran jalan hidup yang ideal. Stay healthy.

%d bloggers like this: